November 9th, 2009 — Informasi
Tetap konsisten dengan proyek pengembangan open source, Pusat Penelitian Informatika (P2I) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali merilis update Distro Nusantara. Kode rilis Distro Nusantara kali ini adalah IGN 2009.
Dalam acara launching yang juga berbarengan dengan Seminar Nasional Tentang Open Source Software di Ballroom Hotel Jayakarta ini, P2I LIPI mendemonstrasikan IGN 2009 ini yang merupakan pengembangan dari Distro Nusantara terdahulunya, Igos Nusantara.
“Kita konsisten dengan hal ini. Tiap tahun kita kembangkan dan kita rilis,” ujar Kepala P2I LIPI Tigor Nauli kepada detikINET di sela-sela acara.
Senada dengan Tigor, Ketua Tim Pengembang IGN 2009, Ana Heryana juga mengatakan bahwa IGN 2009 saat ini adalah versi penyempurnaan dari yang sebelumnya. Bahkan dirinya pun mengklaim bahwa sistem operasi ini bisa berjalan di hampir semua perangkat keras.
“Ya 90 persen kita optimis semua hardware bisa terdeteksi. Kecuali mungkin untuk hardware keluaran paling baru. Yang keluar setelah pertengahan tahun mungkin belum terdeteksi,” katanya menjelaskan.
IGN 2009 ini tersedia dalam 3 tipe media yaitu IGN2009 DVD Installer, IGN2009 LiveCD GNOME dan IGN2009 LiveCD LXDE (minimalis).
“Ada 3 tipe yang kita sediakan. Kita berharap ini dapat menjadi solusi dari kebutuhan masyarakat terhadap sistem operasi alternatif. Bahkan untuk yang versi DVD Installer itu sangat lengkap. Karenanya ukurannya pun sekitar 4,2 gigabyte. Ada sekitar 3.800 file aplikasi yang bisa dipilih dan diinstalkan,” terang Nana Suryana, peneliti sekaligus salah seorang tim pengembang utama IGN 2009 di tempat yang sama.
Disinggung mengenai distribusi IGN 2009 ini, Nana menjawab bahwa bagi masyarakat yang ingin mendapatkannya bisa saja mengunduh di http://repo.igos-nusantara.or.id/iso/2009. Selain itu bisa juga didapatkan langsung di Igos Center. ( afz / fyk )
sumber:detikinet.com
October 29th, 2009 — Informasi
Perangkat lunak "Open Source" membuka peluang tak terbatas untuk mengembangkan industri di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam negeri sekaligus sumber daya manusia di sektor TIK.
Hal itu dinyatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring saat memberi sambutan pada "Global Conference on Open Source (GCOS)" yang
dihadiri sejumlah pakar open source dari berbagai negara di Jakarta, Senin.
Menurut Tifatul, Free Open Source Software (FOSS) diadopsi dan dimanfaatkan pemerintah bukan saja karena model bisnis alami FOSS yang gratis untuk digunakan, bebas sumber kode-nya untuk dimodifikasi dan
disebarkan tetapi juga karena kemandirian yang ditawarkan FOSS.
Bagi pemerintah, FOSS juga mengalihkan masyarakat Indonesia dari masalah pembajakan software (perangkat lunak) karena sifatnya yang gratis,
sementara software berlisensi (proprietary) seringkali tak terjangkau masyarakat.
Ia menyatakan bangga bahwa perangkat lunak sumber kode terbuka ini tumbuh sangat cepat meskipun sempat mengalami banyak hambatan dalam
implementasinya.
Banyaknya pakar dari berbagai negara yang hadir dan bertukar pengalaman dalam GCOS ini, lanjut dia, diharapkan mampu menghilangkan segala hambatan
dalam implementasi FOSS di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) Betti Alisjahbana mengharapkan FOSS bisa sukses diimplementasikan di Indonesia
dengan memperkuat komunitas open source.
"Kami berharap Indonesia bisa mengambil manfaat maksimum dari FOSS yang semakin berkembang di dunia untuk kemajuan TIK Indonesia dan pertumbuhan
ekonomi umumnya," kata Betti.
Menurut dia, sejak Indonesia Go Open Source (IGOS) dideklarasikan pada 30 Juni 2004 Indonesia sudah muncul menjadi pemimpin dalam gerakan open
source.
Sejumlah pakar dan praktisi dunia TIK khususnya open source yang hadir dalam konferensi ini antara lain: Sunil Abraham dari India, Krich
Nasingkun dari Thailand, Muh Rosli bin Abd Razak dari Malaysia, Ko Hong Eng dari Sun Micro System, Ray Davies dari IBM, Matthias Merkle dari
IntWEnt hingga Campbell O Webb dari Harvard University.
Selain itu sejumlah pakar open source Indonesia juga hadir seperti Onno W Purbo, I Made Wiryana, juga Indra Utoyo dari Telkom, Dr Aswin Sasongko
dari Depkominfo.
sumber: www.antara.co.id
July 20th, 2008 — Informasi, Pengetahuan
Sistem manajemen konten (Content Management System), adalah perangkat lunak yang memungkinkan seseorang untuk menambahkan dan/atau memanipulasi (mengubah) isi dari suatu situs Web. Umumnya, sebuah CMS (Content Management System) terdiri dari dua elemen:
- aplikasi manajemen isi (Content Management Application, [CMA])
- aplikasi pengiriman isi (content delivery application [CDA]).
Elemen CMA memperbolehkan si manajer isi yang mungkin tidak memiliki pengetahuan mengenai HTML (HyperText Markup Language), untuk memenej pembuatan, modifikasi, dan penghapusan isi dari suatu situs Web tanpa perlu memiliki keahlian sebagai seorang Webmaster. Elemen CDA menggunakan dan menghimpun informasi-informasi yang sebelumnya telah ditambah, dikurangi atau diubah oleh si empunya situs web untuk meng-update atau memperbaharui situs Web tersebut. Kemampuan atau fitur dari sebuah sistem CMS berbeda-beda, walaupun begitu, kebanyakan dari software ini memiliki fitur publikasi berbasis Web, manajemen format, kontrol revisi, pembuatan index, pencarian, dan pengarsipan.
Berikut dibawah ini pemanfaatan CMS:
- Website perusahaan, bisnis, organisasi atau komunitas.
- Portal
- Galeri foto
- Aplikasi E-Commerce.
- Mengelola website pribadi / blog.
- Dan lain-lain.
Salah satu perangkat lunak Content Management System yang dikenal luas yaitu MediaWiki, perangkat lunak yang dipakai di Wikipedia dan proyek-proyek sejenis.
Untuk download CMS disediakan opensource yang bebas untuk didownload, mulai dari PHPnuke, PHPbb, Wiki, Jomla, Mambo dan masih banyak lagi. Cuma ada di Opensource CMS